Fenomena Gabut

Fenomena "gabut" semakin merajalela di kehidupan kita. Siapa nih di antara kalian yang nggak pernah gabut?

Waktu awal-awal kata "gabut" ini mulai terkenal, saya sempat bingung. Banyak banget dari teman sekolah saya yang menggunakan kata "gabut" dengan ucapan seperti:

"Nanti aja deh, gue lagi gabut."
"Gabut nih, maen yuk, kemana gitu?"

Sampai-sampai di media sosial pun, "gabut" ini sangat sangat sering digunakan, misalnya status Whatsapp kayak gini:

"Gabut nih, kirim aku pesan, nanti aku kasih kamu 5 kata yang mendeskripsikan kamu."

Ada lagi di story Instagram:

"Tanya jawab yuk, mumpung gabut. :)"

Dan masih banyaaaak lagi yang lainnya~

Saya yang saat itu masih anak SMP yang lugu dan polos, sama sekali nggak ngerti sebenarnya apa maksud dari kata "gabut" ini? Akhirnya, daripada kebanyakan nebak-nebak jawaban, saya tanya langsung ke teman saya via Whatsapp, "Ra, gabut tuh apaan sih?" Dia jawab, "Gaji buta Ca, wkwkwkwk." Dan dengan polosnya saya membalas, "Ooh..gituu." #tepokjidat

Walau pertanyaan saya sudah terjawab, saya masih aja penasaran, karena "gaji buta" itu sama sekali nggak nyambung sama kata-kata tentang gabut yang sering saya temui di media sosial.

Namun akhirnya saya ngerti juga, setelah saya telaah lebih lanjut *ceilah, ternyata kalau dipahami dengan baik, maka gabut itu pengertiannya lebih dekat kepada kata "bosan" atau "nggak ada kerjaan".

Waah jadi ternyata jauh banget ya maksud dari gabut yang artinya gaji buta, sama gabut bahasa gaul? Kalau kita pahami sekilas saja, tentu keduanya sangat jauh berbeda. Tapi...coba kita telaah lagi.

Dikutip dari wikipedia.com, gaji buta atau gabut adalah suatu gaji yang diterima oleh seseorang yang tidak melakukan sebagian atau seluruh pekerjaannya. Naah, jadi menurut saya, gabut dalam artian gaji buta ini, sangat berhubungan dengan gabut yang kita pahami saat ini untuk menggambarkan keadaan "bosan" dan "nggak ada kerjaan".

Lohhh, hubungannya apa gaji buta sama bosen dan nggak ada kerjaan?
Oke, tenang dulu...*padahal emang ga ada yang panik sih
Coba deh kita perhatikan, ketika kita lagi gabut, apa yang kita lakukan? Yang namanya gabut, bosen, atau nggak ada kerjaan, maka aktivitasnya nggak jauh dari main gadget, santai-santai, atau bahkan tidur. #pengalaman

Ketika kita lagi gabut kayak gitu, sadar nggak sih, bahwa kita masih tetap "digaji" oleh Sang Pencipta walau kita nggak melakukan apa-apa? Walau kita cuma berleha-leha?
Ya. Gaji yang saya maksud di sini, bukan berupa uang, harta, perhiasan, makanan, ataupun yang lainnya. Bahkan ini lebih penting dari itu semua. Apa itu?

Waktu

Ketika kita gabut, kita sama saja dengan orang-orang yang memakan gaji buta atas pekerjaannya. Kita sudah diberi gaji oleh Allah berupa waktu, namun kita tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya kita lakukan. Harusnya kita bantu orang tua, malah main gadget. Harusnya kita belajar, malah santai-santai. Harusnya kita shalat, malah tidur-tiduran.

Jadi udah paham kan kenapa gabut yang kita pahami saat ini, sangat berhubungan dan bahkan sama persis dengan gabut dalam artian gaji buta?

Entah siapa yang pertama kali mem-booming-kan kata gabut ini sebagai pengganti dari kata "bosen", "nggak ada kerjaan", dan yang lainnya. Tapi siapapun itu, menurut saya, ini sangat tepat! Supaya kita tahu, bahwa gabut ini bukan untuk lucu-lucuan, bukan hal yang patut untuk dibiasakan. Makan gaji buta dari manusia aja udah kebayang dosanya. Apalagi makan gaji buta nya dari Sang Pencipta? Wah, tentu lebih nggak kebayang lagi.

Ini benar-benar jadi note buat diri saya sendiri. Dan saya harap bisa bermanfaat juga buat kalian yang membaca tulisan ini.

Semoga kita selalu menjadi manusia yang lebih menghargai waktu lagi di setiap harinya. ♡

Posting Komentar

1 Komentar