![]() |
| Menunggu Hingga Tak Kenal Waktu |
Awal tahun ini kita telah dikejutkan dengan virus
COVID-19 yang tiba-tiba menyebar di Indonesia. Segala aktivitas yang seharusnya
kita lakukan setiap hari, kini terhambat begitu saja karena pandemi. Tentunya,
tidak ada seorang pun yang senang ketika pandemi ini datang, kecuali anak-anak
sekolah tingkat terakhir yang berbahagia kala ujian nasional dibatalkan.
Bulan-bulan
pertama saat pandemi mungkin tidak terlalu terasa berat. Saat itu, masyarakat
setidaknya masih punya ‘simpanan’ harta untuk mencukupi kebutuhan mereka selama
pandemi. Kebiasaan baru yang diimbau oleh pemerintah pun tampaknya tidak
terlalu sulit untuk dilakukan. Kita hanya diperintah untuk selalu mengenakan
masker ketika bepergian, menghindari kontak fisik, dan selalu menjaga kesehatan
serta kebersihan badan.
Namun
nyatanya, pandemi tak lekas berakhir. Bahkan setelah bulan Ramadan dan Syawal
berlalu, virus ini masih saja menunjukkan eksistensinya. Masyarakat yang tadinya
sudah mulai terbiasa untuk tetap menetap di rumah, perlahan-lahan mulai muak
dengan keadaan dan situasi seperti ini, termasuk penulis sendiri. Banyak orang
yang sudah melupakan protokol kesehatan dengan bepergian jauh dan
berdesak-desakkan di tempat umum dengan alasan “bosan di rumah”.
Memang
berat rasanya ketika kita sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial justru
harus menahan diri dari bersosialisasi. Berbulan-bulan kita selalu
bertanya-tanya dalam hati, “Kapan ini semua berakhir?”. Tentunya penulis
sendiri tidak bisa menjatuhkan kesalahan kepada siapa pun. Semua orang pasti
punya masalahnya sendiri dalam menghadapi pandemi. Akan tetapi, mungkin dengan
menengok ke belakang dan mengingat kisah-kisah orang salih terdahulu, akan
menguatkan diri kita untuk tetap bersabar di situasi seperti ini.
Contohnya, kita bisa mengingat bagaimana sabarnya Nabi Ayyub ‘alaihissalam ketika beliau ditimpa penyakit kulit. Jangankan untuk bersosialisasi, semua orang saat itu menjauh dari Nabi Ayyub ‘alaihissalam, ternasuk istrinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mau mendekat kepada beliau. Padahal sebelumnya beliau dikaruniai harta dan hewan ternak yang melimpah. Namun, dengan berbagai ujian yang menimpa beliau sama sekali tak menyurutkan keimanannya. Hati dan lisan beliau tidak pernah berhenti untuk selalu berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari kisah tersebut kita dapat mengambil banyak sekali hikmah. Salah satunya yaitu kesabaran beliau dalam menghadapi segala ujian. Kita yang saat ini masih diberi kesehatan, sudah seharusnya bisa lebih mensyukuri keadaan. Kita yang saat ini masih selalu ditemani keluarga di rumah, sudah seharusnya tak lagi gundah.
Memang berat rasanya menahan rindu yang semakin hari semakin menggebu untuk bertemu teman, sahabat karib, atau saudara jauh. Namun ingatlah, di setiap ujian dan musibah yang menimpa, ada dosa yang berguguran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا
حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا
كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada masa depan), sedih (akan masa lalu), kesusahan hati (berduka cita) atau sesuatu yang menyakiti sampai pada duri yang menusuknya, itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573. Lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 118 dan Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 1: 491)
Dan jangan lupa bersabar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang yang bersabar.
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ
مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S
Al-Baqarah[2]:153)
Semoga dengan bersabar, pandemi ini segera kelar.
Wallahu a’lam.

0 Komentar