Gibah yang Dianggap Lumrah


Dewasa ini, istilah gibah tampaknya telah menjadi hal yang sangat lumrah dibicarakan. Gibah sendiri merupakan suatu aktivitas membicarakan keburukan orang lain tanpa diketahui oleh orang itu.

Bagi orang Indonesia, aksi gibah ini bisa kita temui di mana-mana. Mulai dari ibu-ibu yang sedang belanja di tukang sayur, perbincangan penumpang di angkutan umum, sampai obrolan dalam keluarga untuk menemani makan malam. Biasanya, gibah dilakukan untuk meluapkan keresahan terhadap seseorang.

Di era media sosial seperti sekarang ini, tak jarang ada yang membuat konten gibah secara terang-terangan. Mereka menganggapnya sebagai suatu candaan bahkan kebiasaan. Dari mulai kolom komentar, caption Instagram, sampai video dengan durasi berjam-jam. Tentu saja sebagai seorang muslim, kita harus memandang sesuatu dengan kacamata Islam. Lantas, bagaimana Islam memandang hal tersebut?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [1]

Dalam ayat tersebut, Allah ĜĴل ĜĴلĜ§Ù„Ù‡ menyeru kepada orang-orang beriman untuk menjauhi perbuatan gibah. Bahkan, larangan gibah tersebut disandingkan dengan larangan berburuk sangka terhadap orang lain. Allah ĜĴل ĜĴلĜ§Ù„Ù‡ juga memberitakan bahwa perbuatan gibah sama dengan memakan daging saudara kita yang sudah mati. Tentulah kita semua tidak ingin melakukannya, bukan Bahkan ketika kita terlalu banyak memakan makanan kesukaan, kita pun akan merasa enek. Padahal itu makanan kesukaan kita sendiri, apalagi jika kita harus memakan bangkai manusia. Begitulah yang diucapkan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri -hafizhahullah- dalam salah satu kajiannya. [2]

Maka, sebagai orang beriman sudah sepatutnya kita menjauhi hal tersebut. Mungkin akan terasa berat di awal. Namun percayalah, dengan menjauhi perbuatan dosa, kita akan mendapat ketenangan yang luar biasa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan
kegelisahan.” [3]

Ketenangan adalah faktor kebahagiaan dalam kehidupan. Maka, siapapun yang ingin mendapat kebahagiaan dalam hidupnya, mari kita jauhi segala hal yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kemaksiatan.

Wallahu a’lam.

Catatan kaki:
[3] HR. Al Hakim 2/51 dalam Mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih. Adz Dzahabi menegaskan bahwa hadits ini shahih.

Posting Komentar

0 Komentar