Berawal dari sebuah rencana yang alhamdulillah tidak hanya menjadi wacana, akhirnya saya pun pergi ke Bandung untuk menemui seorang sahabat saya yang sudah lama tidak berjumpa.
Awalnya
saya ragu, apa saya bisa bertemu dengan dia? Setiap kali saya bertemu kawan
lama, lidah ini selalu saja kaku untuk berbicara.
Namun, apa
gunanya terus-menerus larut dalam rasa takut? Alhasil, saya pun memberanikan
diri untuk pergi menemui dia di akhir pekan ini.
1 Oktober
2022, saya awali hari dengan beragam pertanyaan di kepala:
“Nanti
mending naik Damri atau travel ya?”
“Kalau naik
Damri, ongkos angkot ke haltenya bayar berapa ya?”
“Nanti pas
naik Damri, saya keliatan kayak orang bingung gak ya?”
Berbeda
dengan diri saya di tahun-tahun sebelumnya, saat pertanyaan-pertanyaan itu
muncul, saya tetap bersikeras untuk pergi. Tak peduli kekhawatiran apa saja
yang membuat ragu, saya tetap teguh berangkat ke Bandung untuk melampiaskan
rindu.
Bukannya
naik angkot, saya malah memutuskan untuk jalan kaki sampai ke halte Jatos. Ternyata
saat itu saya masih kalah dengan rasa ragu yang terus membayangi kepala.
Ya sudahlah
tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga pagi…
Alhamdulillah…
Saya pun bisa naik Damri dan melakukan perjalanan ke Dipatiukur dengan lancar
dan tidak ada satu pun momen “awkward” yang terjadi.
Kemudian
muncullah masalah baru:
“Ini
mending mesen gojek di pangkalan Damri atau jalan sedikit ke sana ya?”
“Hmm…jalan
aja deh, kalau di sini abangnya repot nyariin saya yang ketutupan Damri.”
Masalah itu
segera tuntas ketika abang gojek telah tiba menjemput saya.
Jujur,
perjalanan saya menaiki kendaraan beroda dua itu sangat menyenangkan. Apalagi
posisi saya saat itu yang berada di “kota orang”, ada banyak tempat dan
pemandangan yang baru saya lihat.
Tapi
sayangnya, ternyata jarak Dipatiukur dan UPI itu tidak terlalu jauh. Padahal,
saya masih ingin berjalan-jalan mengitari Kota Kembang.
![]() |
| Gerlong UPI |
Saya menghabiskan waktu sekitar 6 jam di sana, di kamar kos dan beberapa tempat di UPI. Sahabat saya banyak bercerita tentang pengalaman barunya maupun berbagai keluh kesahnya. Dia juga mengajak saya berkeliling di sekitar Fakultas Bahasa dan Sastra UPI. Tak lupa juga dia mengajak saya berfoto di tempat-tempat yang “aesthetic”.
![]() |
| Di Depan Gedung ISOLA |
Akhirnya, tibalah pukul 4 sore. Saya kembali memesan gojek dan pergi menuju Balubur Town Square.
Sama
seperti momen sebelumnya, saya amat sangat mensyukuri pemandangan sore di Kota
Bandung yang saya lihat itu. Saya juga sempat melewati kawasan Cihampelas yang
sudah pernah saya datangi saat akhir tahun lalu. Sungguh momen yang sangat
tepat untuk bernostalgia.
Sampailah
saya di Balubur Town Square, tepatnya di area pool Arnes dan Pasteur Trans.
Sebuah keramaian terpampang jelas di hadapan saya. Saya pikir, sudah tak ada
waktu lagi untuk melayani rasa cemas dan takut. Dengan tekad yang kuat, saya
berhasil melewati keramaian itu dan memesan satu tiket untuk kembali ke
Jatinangor.
![]() |
| Tiket Pulang ke Jatinangor |
Saya menunggu sembari berdiri di tengah-tengah padatnya pengunjung. Tak lupa, saya juga mengabari keluarga dan kerabat untuk sekadar menginfokan bahwa saya sudah berhasil sampai di pool shuttle & travel.
Tak perlu
lama menunggu, saya pun menaiki mobil shuttle itu tanpa ragu. Ngomong-ngomong,
saya dapat kursi nomor satu, yang artinya itu adalah kursi di sebelah sopir. Saya
juga sempat kesulitan untuk naik ke mobil karena terlalu tinggi untuk kaki saya
yang pendek. Apa mungkin kebalikannya? Kaki saya yang terlalu pendek untuk bisa
naik mobil shuttle itu? Ah, sudahlah. Tidak terlalu penting.
Keuntungannya
duduk di depan adalah saya bisa melihat pemandangan kota dengan lebih jelas.
Setiap sudut Kota Kembang itu sangat menarik perhatian saya.
![]() |
| Pemandangan Sore di Kota Bandung |
Pukul
18.00, saya pun tiba di Jatinangor. Sebelum kembali ke kosan, saya menyempatkan
diri untuk membeli segelas cokelat dingin dan seporsi ayam geprek di depan
gerai Indomaret.
Akhirnya,
perjalanan saya hari ini pun berakhir.
Setelah
saya pikir-pikir, ternyata sudah banyak perkembangan dalam diri saya selama
beberapa bulan terakhir. Saya ingat ketika pertama kali saya memesan gojek di
MAN 2, kaki saya selalu gemetar saat menaiki motor sang driver. Saat menunggu
angkot datang pun, saya selalu overthinking dan ketakutan. Sekarang...saya bisa naik gojek dengan lebih santai. Bahkan, saya bisa menaiki angkutan Damri & travel dengan berani. Saya juga bisa beli makanan sendiri.
Alhamdulillah.
Tidak disangka-sangka, ternyata saya bisa seberani ini. Rasa takut dan cemas
itu tidak separah dahulu. Si anak bungsu yang manja ini perlahan tumbuh menjadi
dewasa.
Maafkan
aku, Diriku. Maafkan aku yang dulu selalu meragukan kemampuanmu.
Ternyata
kamu hebat. Ternyata kamu bisa!
Yuk, semangat menjelajahi hidup! Pasti masih ada banyak kejutan menyenangkan yang sudah Allah siapkan di kemudian hari. 😊
Ditulis malam-malam,
1 Oktober 2022, 23.09
Jatinangor
.jpg)



0 Komentar