Terhapus Dosa, Terkabul Doa

Kisah Penjual Roti dan Imam Ahmad

Siapa pun dari kita pasti senang kala keinginannya tercapai. Sebesar atau sekecil apa pun keinginan itu, hati kita akan merasa ‘lega’ ketika semuanya terkabulkan. Tentunya sebagai orang yang beriman, telah kita ketahui bersama bahwa tidak ada sesuatu yang dapat mengabulkan doa dan permohonan kita kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Q.S Al-Mu’min[40]:60) [1]

Mungkin telah banyak dari kita yang tak asing lagi dengan ayat tersebut. Dengan membaca terjemahnya sekilas saja, sudah membuat diri ini tergiur untuk selalu berdoa. Bahkan jika kita enggan berdoa, dikhawatirkan kita termasuk orang-orang yang sombong dan termasuk dalam ancaman pada ayat tersebut.[2] 

Hanya dengan berdoa, Allah berjanji akan mengabulkannya. Namun, betapa banyak dari kita yang merasa doa-nya jarang dikabulkan, atau bahkan belum pernah terkabulkan sama sekali, termasuk saya sendiri. Lantas, sebenarnya apa yang bisa membuat doa kita terwujud? Barangkali cuplikan kisah ini bisa menjadi teladan untuk kita amalkan.

Ini adalah kisah salah satu imam empat mazhab besar, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Pada akhir hidupnya, pernah terbesit dalam pikiran beliau untuk mendatangi sebuah kota di Irak. Beliau hanya ingin pergi ke sana tanpa alasan yang jelas. Sesampainya di sana, Imam Ahmad rahimahullahu masuk ke satu masjid untuk menunaikan salat magrib berjamaah. Walaupun beliau sudah masyhur sebagai seorang ulama, tidak ada seorang pun yang mengenali wajahnya karena pada masa itu belum ada foto.

Seusai salat, Imam Ahmad rahimahullahu hendak bermalam di masjid itu. Namun, ketika beliau mulai berbaring di lantai masjid, datanglah seorang penjaga masjid yang mengusir dan mengeluarkannya dari area masjid. Setelah beliau keluar dari masjid, seorang tukang roti menghampiri dan menawarkan beliau untuk menginap di rumahnya.

Kemudian, tukang roti tersebut menjamu Imam Ahmad rahimahullahu di rumahnya. Setelah itu, dia beranjak pergi untuk membuat adonan rotinya. Imam Ahmad rahimahullahu mendengar si tukang roti beristigfar sepanjang waktu. Saat memecahkan telur, dia beristigfar. Saat memasukkan tepung, dia beristigfar. Dia hanya berhenti beristigfar saat berbicara atau bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullahu. Karena Imam Ahmad rahimahullahu keheranan, akhirnya keesokan hari ketika beranjak pagi, beliau bertanya kepada si tukang roti, “ما ثَمَرَةُ الإِسْتِغْفَارِ؟” (Apa buah dari istigfarmu?). Kata dia, “Tidak ada sesuatu pun yang saya minta kepada Allah kecuali dikabulkan, tinggal satu yang belum Allah kabulkan.” Imam Ahmad rahimahullahu bertanya, “Apa itu?” tukang roti menjawab, “saya minta dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

Kemudian, Imam Ahmad rahimahullahu berkata, “Allahu akbar! Istigfarmu lah yang membuat saya ingin pergi ke sini entah mengapa, istigfarmu yang membuat saya diusir oleh penjaga masjid, istigfarmu yang membuat saya datang ke tempat ini. Karena saya adalah Ahmad bin Hanbal.” [3][4]

Maa syaa Allah, sungguh kisah yang sangat inspiratif bukan? Ternyata, dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan memperbanyak istigfar, rezeki akan senantiasa mengalir dalam kehidupan. Dengan selalu memohon ampunan, permintaan apa pun akan didatangkan. Jika dengan memohon ampun menjadi sebab terkabulnya doa, maka dosa dan maksiat lah yang menjadi sebab terhalangnya doa-doa kita. Sebagaimana firman Allah :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S Al-Baqarah[2]:186) [5]

Dalam ayat tersebut, Allah berjanji akan mengabulkan doa kita. Namun, Allah juga memerintahkan kita untuk senantiasa memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Sebagaimana ucapan seorang ulama terdahulu, Yahya bin Mu’adz Ar-Razi: “Janganlah sekali-kali kamu merasa tidak dikabulkan (permohonanmu) ketika kamu berdoa (kepada Allah), karena sungguh kamu (sendiri) yang telah menutup pintu-pintu pengabulan (doamu) dengan dosa-dosamu.” [6]

Semoga sedikit tulisan di atas dapat jadi pengingat untuk penulis sendiri dan dapat bermanfaat untuk para pembaca.

Wallahu a’lam.


Catatan kaki

[1] https://tafsirweb.com/8872-quran-surat-al-mumin-ayat-60.html

[2] Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah.

[3] Kisah Imam Ahmad dan Penjual Roti - Ustadz DR Khalid Basalamah
https://www.youtube.com/watch?v=ikuU7JOKIfk

[4] Keajaiban Sedekah & Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc & Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hlm. 142-143.
https://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/tukang-roti-dan-istighfar/amp/

[5] https://tafsirweb.com/693-quran-surat-al-baqarah-ayat-186.html

[6] Majalah Pengusaha Muslim: Hijrah dari Riba di Bank Syariah karya Dr. Muhammad Arifin Badri, Kholid Syamhudi, Lc., Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc, Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc., Edisi 04/2012, hlm. 54.

Posting Komentar

0 Komentar